pemimpin zalim penyebab bencana

TafsirAl-Isra 16: Penguasa Zalim, Penyebab Bencana @geloranews 16 Januari 2021. Jadi, salah satu tanda ketidak sukaan Tuhan terhadap suatu negeri, yaitu ketika Allah memberi mereka pemimpin yang mutrafin. Pengertian pemimin mutrafin tidak saja tertumpu kepada top leader, presiden, melainkan juga pada para pembantunya, menteri dan LimaPenyebab Datangnya Bencana (Ilustrasi freepik.com) Lima Penyebab Datangnya Bencana ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma'had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo. PWMU.CO - Kajian Lima Penyebab Datangnya Bencana ini kita mulai dari hadits riwayat Ibnu Majah. TafsirAl-Isra 16: Penguasa Zalim, Penyebab Bencana. Editor: Redaksi . Wartawan:-- Senin, 31 Desember 2018 13:45 WIB. Ilustrasi: Dampak bencana tsunami di Palu dan Donggala beberapa waktu lalu. Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . . BACA JUGA: Tafsir Al-Kahfi 71-73: Khidir dan Kiai Idris Kamali, Kiai yang Memberkahi Sekaligus Mengkualati Parapenasihat yang buruk dan teman yang jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadikan sebagai pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah terpengaruh pada tekanan internasional, juga menjadi penyebab pemimpin berlaku zalim. Tugas umat, belum lagi selesai. ArRum [30]:41). Imam Muhammad bin Ishaq dalam kitab sirahnya dalam menafsiri ayat di atas berkata: bahwa kerusakan dalam bumi yakni rusaknya tanaman dan buah-buahan itu terjadi sebab kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. lebih lanjut Imam Hasan berkata juga dalam ayat di atas: أَفْسَدَهُمُ اللهُ بِذُنُوْبِهِمْ Site De Rencontre Femme Marocaine Gratuit. – Menjadi sunnatullah, bahwa segala musibah dan peristiwa di dunia ini terjadi karena adanya sabab musabab. Tatkala Alloh menurunkan bencana pasti ada sebab yang dilakukan oleh manusia. Salah satu sebab yang mendatangkan bencana adalah lahirnya penguasa zalim ditengah-tengah masyarakat. Menurut tafsir surat Al-Isra ayat 16, dijelaskan bahwa penguasa zalim adalah sebab turunnya bencana, baik di laut darataupun udara. Alloh Subhanahu wa ta’alaa berfirman wa idzaa aradnaa an nuhlika qaryatan amarnaa mutrafiihaa fa fasaqu fiihaa fa haqqa alaihal-qaulu fa dammarnaahaa tadmiiraa ayat 16. Ayat sebelumnya bertutur soal kemahakasihan Tuhan yang tidak bakal menyiksa manusia sebelum diutus utusan atau sebelum ada juru dakwah yang berseru keimanan. Mereka yang patuh akan mendapat kebaikan dan yang durhaka bakalan disiksa. Lalu pada ayat kaji ini menuturkan, bahwa Allah SWT akan menghajar habis-habisan sebuah kaum karena kezaliman, karena kedurhakaan yang dilakukan para penguasanya. Meskipun ibadah rakyat bagus-bagus, meskipun amal perbuatan mereka sesuai syari’ah agama, tapi kalau para pejabatnya banyak yang mengumbar nafsu, korup, berfoya-foya, maka itu berpotensi turunnya azab atas kaum tersebut. Terkait turunnya azab tersebut, cukup diambil dua kata kunci pada ayat ini, yakni mutrafiha pembesar dan fafasaqu fiha durhaka. Mutraf, mutarafun, adalah kaum jetset, borjuis, pembesar yang bergelimang harta dan hobi berfoya-foya. Derajat sosial yang tinggi dan serba berkecukupan membuat mereka bebas melakukan apa saja. Sementara kata “fa fasaqu fiha”, menunjukkan betapa kaum mutarin tadi telah terjerumus kepada kefasikan, kemaksiatan, kedurhakaan. Hal demikian karena pada umumnya, nafsu dan syahwat sangat mendominasi pola hidup mereka, sehingga cenderung abai terhadap kewajibannya sebagai pemimpin, sebagai orang gedean yang mesti memberi contoh kesalehan kepada umat. Di kepala mereka, nafsu hedonis lebih utama ketimbang menunaikan amanah. Dari dua kata ini menunjukkan, bahwa kaum mutarafin itu tidak semuanya mesti hobi berbuat maksiat, tidak semuanya mesti ngumbar durhaka, melainkan cenderung durhaka. Begitu mereka durhaka dan terus dalam kedurhakaan, maka langit bersikap lain fa haqq alaiha al-qaul”. Barulah Allah SWT memutuskan untuk layak diazab. Azab turun beneran dengan volume top, “fa dammarnaha tadmira”, dihancurkan sehancur-hancurnya. Beberapa kata dalam ayat kaji ini penting dianalisis. Pertama, kata qaryah, artinya perkampungan atau bangsa. Kata ini menunjukkan ruang tertentu, daerah atau negeri tertentu, tidak bias dan umum. Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. Kedua, “amarna” mutrafiha. Qira’ah lain, “ammarna” pakai tasydid. Amara, artinya memerintahkan, menyuruh. Sedangkan “ammara”, artinya menguasakan. Allah memberi negeri tersebut penguasa yang mutrafin. Jadi, salah satu tanda ketidak sukaan Tuhan terhadap suatu negeri, yaitu ketika Allah memberi mereka pemimpin yang mutrafin. Pengertian pemimin mutrafin tidak saja tertumpu kepada top leader, presiden, melainkan juga pada para pembantunya, menteri dan sebagainya. Kadang bupatinya bagus, tapi para kepala bagiannya brengsek. Oleh Dr. KH A Musta’in Syafi’ie Bencana Alam dan Pemimpin Zalim 8 Agustus 2018 Baru-baru ini Indonesia kembali dirundung duka. Gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter mengguncang daerah Nusa Tenggara Barat, Bali, dan sekitarnya. Ratusan rumah dan bangunan lainnya hancur. Puluhan nyawa melayang dan lebih dari 200 orang mengalami luka-luka akibat gempa yang terjadi pada Minggu, 5 Agustus 2018. Data ini terus bertambah seiring proses evakuasi yang terus berjalan. Bencana alam tak serta merta menimbulkan rasa empati mendalam bagi masyarakat pengguna media sosial di Indonesia. Sebagian netizen malah berkomentar menyangkutpautkan bencana ini dengan kepemimpinan di Indonesia pada saat sekarang. Kata-kata kasar tak terelakkan. Menghujat pemimpin karena dianggap sebagai penyebab utama bencana alam yang terjadi beberapa waktu terakhir ini di tanah air. Lalu, apakah benar bencana alam yang terjadi di suatu wilayah hanyalah akibat dari perbuatan zalim sang pemimpin? Dalam perspektif agama Islam, bencana alam kerap dikaitkan dengan tiga pemaknaan. Pertama, bencana alam dianggap sebagai hukum alam atau sunatullah yang memang diyakini bisa terjadi kapan saja. Kedua, bencana alam dianggap sebagai ujian dari Tuhan untuk meningkatkan kualitas keimanan. Dan yang ketiga, bencana alam dianggap sebagai azab, sebagai balasan atas dosa yang dilakukan orang-orang di suatu wilayah. Dengan tiga pemaknaan ini, tentu banyak kemungkinan tentang kondisi apa yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini. Jika mengaitkan bencana alam yang terjadi di Indonesia sebagai suatu hukum alam, tentu tak salah. Mengingat Indonesia memang berada di bagian bumi yang rawan akan terjadinya bencana, semisal gempa bumi maupun gunung meletus. Pun ketika mengaitkan bencana alam sebagai suatu bentuk ujian, juga tak salah. Terlebih bagi seorang muslim, adanya kewajiban untuk meyakini bahwa suatu musibah adalah bagian dari ujian untuk memperkuat keimanan. Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat 2 yang berbunyi, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” Ketika berbicara tentang bencana alam sebagai bentuk azab dari Tuhan untuk masyarakat Indonesia, tentu bukanlah hal yang mustahil. Sebab kemaksiatan menjadi sesuatu yang mudah untuk kita temui saat sekarang. Tindak korupsi, praktek prostitusi, mabuk-mabukan, hingga perjudian adalah bagian kecil dari banyak kemaksiatan yang ada di negeri ini. Dalam Al-Qur’an pun Allah telah mengingatkan, “Telah nampak kerusakan di darat maupun di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka sendiri agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Ar-Rum 41. Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman, “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal generasi itu telah Kami tangguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu ketangguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” Al An’aam 6. Perbuatan maksiat yang ada di Indonesia tentu bukan hanya bersumber dari kepemimpinan pemimpinnya saja, tetapi juga andil dari masyarakatnya. Ketika kita ingin menyalahkan pemimpin atas bencana yang terjadi, kita sebagai rakyat pun harus terlebih dahulu mengintrospeksi diri. Melihat apakah kita sebagai rakyat juga telah melakukan hal-hal baik yang selama ini diperintahkan oleh Tuhan. Karena sejatinya pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. Seorang cendikiawan muslim yang juga ahli fiqih, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Renungkanlah hikmah Allah ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin, dan pelindung umat manusia. Adalah sama dengan amalan rakyatnya. Bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya.” Dari sini kita bisa merenungi bahwa kezaliman yang ada pada pemimpin tentu tak lepas dari kezaliman yang ada pada rakyatnya. Sehingga, daripada kita hanya terus menyalahkan pemimpin atas bencana yang terjadi, bukankah lebih baik bagi kita untuk turut mendo’akan saudara-saudara kita yang sedang terkena bencana, terlebih turut membantu mereka secara langsung. Dan sebagai bagian dari masyarakat, tentu kita juga harus mengoreksi diri terlebih dahulu, apakah perbuatan yang kita lakukan selama ini telah baik seperti cerminan sifat pemimpin yang kita dambakan. Kita mestilah prihatin dengan bencana alam yang melanda negeri kita. Dan percaya bahwa kejadian ini juga tak luput dari dosa kesalahan kita. Namun, tak pantas rasanya jika di saat-saat seperti ini sebagian netizen Indonesia yang tak merasakan langsung derita bencana, lantas mengatakan ini sebagai bentuk azab dari Tuhan bagi mereka yang mengalaminya, pun bagi pemimpin di daerah tersebut. Di manakah empati kita? Karena kita tak pernah tahu atas alasan apa sebenarnya Allah menurunkan bencana bagi makhluk ciptaan-Nya. Yang mesti kita ambil hikmahnya adalah kita wajib untuk senantiasa memperbaiki diri, menjaga alam, dan senantiasa berbuat kebaikan bagi tanah air tercinta. Sebagai warganet yang baik, berhentilah menyalahkan pemimpin. Stop berkomentar yang tidak baik di media sosial! Mengaitkan bencana alam dengan hal-hal yang tidak selayaknya. Berpikirlah lebih cerdas, menyadari bahwa bencana alam di Indonesia toh bukan hanya terjadi di era ini saja. Di era-era kepemimpinan sebelumnya pun, Indonesia telah kerap tertimpa bencana alam. Jangan hanya karena alasan politik kita lalu memanfaatkan situasi ini untuk menjelek-jelekkan pemimpin. Terbawa arus untuk selalu melihat kejadian sebagai peluang untuk menjatuhkan. Kejadian ini justru merupakan saat yang tepat untuk kita kembali saling menguatkan, bergandengan tangan untuk menolong saudara-saudara kita bangkit dari keterpurukan. Melihat pedihnya penderitaan korban sebagai peluang untuk turut bergerak melakukan aksi kemanusiaan. Indonesia tak akan bisa maju tanpa adanya kepedulian dan sikap saling pengertian di antara sesama. Teruslah berbuat kebaikan dan selalu menebar semangat perdamaian bagi negeri kita tercinta, Indonesia. Gempa Bumi Bukan Sekedar Fenomena Alam 25 January 2018 Memang benar, gempa bumi terjadi karena fenomena alam semisal pergerakan lempeng bumi dan lain-lain, akan tetapi bagi orang yang beriman, gempa bukan hanya sekedar bencana alam, akan tetapi juga tanda peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada agamanya dan menjauhi maksiat. Allah yang menjadikan pergerakan lempeng bumi dan terjadilah gempa atas izin Allah. Allah mengirim gempa dan bencana alam sebagai peringatan kepada manusia. “Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” QSAl-Isra’ 59. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa agar dengan sebab ini manusia sadar dan jera dari bermaksiat terus-menerus, beliau berkata “Maksud ayat ini adalah memberikan rasa takut agar manusia jera efek jera dan berhenti melakukan maksiat saat itu” Tafsir As-Sa’di. Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata, “Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” Miftah Daris Sa’adah 1/221. Musibah karena akibat perbuatan kita sendiri Perlu diketahui bahwa segala musibah dan kesusahan dunia adalah disebabkan dosa kita dan akibat perbuatan manusia sendiri. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” Ar-Rum 41. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu” Asy Syura 30. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri” An-Nisa 79. Dan peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwa kerusakan dan musibah yang terjadi pada manusia karena banyaknya maksiat. Beliau bersabda, “Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menahan tidak mengeluarkan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin negara, masyarakat tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka” HR Ibnu Majah, ash-Shahihah no. 106. Kita pun diperintahkan agar beristigfar ketika terjadi gempa. Istigfar sangat mudah dilakukan dan itulah seharusnya yang dilakukan ketika terjadi gempa, bukan teriak-teriak atau kata-kata yang menunjukkan penyesalan dan murka atas takdir Allah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” - Antara Dosa dan Bencana Sudah menjadi keyakinan dasar seorang Muslim untuk meyakini bahwa perbuatan dosa itu bisa mendatangkan bencana adzab. Perbuatan dosa dalam kadar kecil masih memungkinkan dimaafkan An Nisaa’ 31. Begitu pula perbuatan dosa yang diikuti taubat atau istighfar, ia juga diampunkan Az Zumar 53. Namun dosa-dosa yang telah bertumpuk, kekafiran besar, kedurhakaan, perbuatan keji, arogansi, dan lain-lain semisal itu, ia akan mendatangkan adzab Allah. Adzab bukan hanya di Akhirat, bahkan ia ada yang diperlihatkan di dunia. Nasib kaum-kaum di masa lalu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum Aad, Tsamud, negeri Sodom, negeri Madyan, negeris Saba’, dll. mereka dibinasakan karena dosa-dosanya yang telah memuncak. Bukti-bukti arkheologis dengan sangat baik menampakkan bekas-bekas kaum yang dimusnahkan itu. Harun Yahya membuat publikasi berharga tentang kaum-kaum yang dimusnahkan di masa lalu itu. Stasiun TV Malaysia juga pernah membuat serial dokumentasi “Jejak Rasul” yang memotret sisa-sisa kehancuran kaum-kaum itu. Sisa-sisa kehancuran kota Pompei, Atlantis, Inca, dan lainnya semakin membuktikan hal itu. Atlantis selama ini dipercaya sebagai kota yang hilang di tengah laut, karena tenggelam. Nabi Nuh As. pernah berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah kalian menyembah, melainkan hanya kepada Allah saja. Sesungguhnya aku takut kalian akan tertimpa adzab pada hari yang sangat pedih.” Huud 25-26. Adzab bagi kaum Nuh bukan hanya terjadi di Akhirat nanti, tetapi juga terjadi saat di dunia. Saya menyangka, banjir di jaman Nabi Nuh waktu itu sangat dahsyat dan luas. Hal itu terlihat dari efek banjir yang berakibat menghancurkan struktur tanah, vegetasi, dan binatang-binatang. Tidak berlebihan jika Nabi Nuh diperintahkan membawa setiap pasangan binatang-binatang. Bahkan, akibat banjir itu, Jazirah Arab yang semula hijau dengan tumbuhan, terangkat permukaannya, sehingga menjadi gersang. Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa dulunya jazirah Arab itu hijau. Sedangkan di masa Ibrahim As., wilayah di Makkah sudah gersang. Dan kita tahu bahwa Ibrahim datang setelah berlalu masa Nuh As. Beberapa ayat Al Qur’an menjelaskan hubungan antara dosa dan bencana yang dialami manusia, antara lain “Keadaan mereka adalah seperti keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” Ali Imran 11. “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal generasi itu telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” Al An’aam 6. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” Al A’raaf 96. “Tak ada suatu negeri pun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat atau Kami adzab penduduknya dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab Lauh Mahfuzh.” Al Israa’ 58. Dan sebuah ayat yang menggambarkan keadaan negeri Saba’. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” An Nahl 112. Negeri Saba’ diceritakan memiliki kesuburan tanah luar biasa. Tanaman tumbuh dimana-mana, dengan hasil melimpah. Mereka memiliki bendungan besar untuk mengelola irigasi. Namun setelah penduduk negeri itu durhaka, mereka tertimpa banjir besar yang menghancurkan negerinya. Setelah banjir, kesuburan tanah di negeri itu lenyap. Dimana-mana tumbuh tanaman berbuah pahit. Kalau orang materialis, atheis, atau freemasonris, tidak percaya hubungan antara dosa dan bencana. Itu wajar saja. Sebab nenek moyang mereka telah mendahului dalam kekafiran dan kedurhakaan. Kaum-kaum yang binasa di masa lalu tidak kalah kafirnya dengan kaum materialis, atheis, freemasonris di masa kini. Namun kalau ada Muslim yang tidak percaya kaitan antara dosa dengan bencana. Ini sungguh sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin ajaran seterang itu tidak mereka percayai? Jangan-jangan mereka sudah tidak percaya dengan kisah Nabi-nabi di masa lalu. Apakah hati mereka sudah membatu karena keracunan pemikiran-pemikiran materialis? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Senin, 27 Zulqaidah 1444 H / 20 Oktober 2014 1451 wib views Oleh Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Indonesia kaya akan kekayaan alamnya, tapi juga kaya akan berbagai musibah dan konflik. Hitung saja sejak naiknya presiden Indonesia sekarang, sudah berapa musibah besar terjadi di negeri ini. Bukan hanya yang menimpa fisik, musibah akidah dan akhlak juga semakin merajalela. Paham sesat pluralisme dan sekulerisme yang mematikan hati semakin dapat tempat. Aliran-aliran sempalan Islam semakin terlindungi. Sebaliknya gerakan dakwah untuk ditegakkannya hukum Allah di bumi Indonesia dimusuhi dan dicitrakan sebagai paham teroris. Bahkan, para tokohnya dibunuh, dipenjara, dan dirusak nama baiknya. Paceklik dan kemarau panjang salah satu musibah yang sekarang sedang mengancam. Banyak masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air bersih yang layak untuk dikonsumsi, dipakai mandi dan cuci. Kekeringan yang menyebabkan gagal panen sudah menimpa ribuan hektar sawah di beberapa daerah. Ditahannya hujan sehingga terjadi peceklik dan kekeringan merupakan akibat dosa manusia. Sedangkan manusia adalah makhluk sosial yang hidup di bawah suatu kepemimpinan/pemerintahan yang menetapkan aturan atas mereka. Baik dan buruknya aturan akan mempengaruhi kesalehan mereka. Jika aturan yang diterapkan tidak didasarkan pada iman dan untuk mewujudkan ketakwaan, maka masyarakatpun akan tidak shalih. Apalagi kalau aturan melegalkan kemungkaran dan melindunginya, maka masyarakat akan menjadi pendosa. Sehingga musibah dan bencana akan turun karenanya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ "Wahai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya Tidaklah merebak perbuatan keji seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabok, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un semacam kolera dan kelaparan yang tidak pernah ada ada pada generasi sebelumnya. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan disiksa dengan paceklik panjang, susahnya penghidupan, dan kezaliman penguasa atas mereka. Tidaklah mereka menahan membayar zakat kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka. Dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh mereka dari kalangan kuffar menguasai mereka, lalu ia merampas sebagian kekayaan yang mereka miliki. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka kaum muslimin berhukum dengan selain Kitabullah dan menyeleksi apa-apa yang Allah turunkan syariat Islam, kecuali Allah timpakan permusuhan di antara mereka.” HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih." HR Ibnu Majah dan Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106 Dalam hadits di atas, pemimpin zalim disebutkan sebagai akibat atas kedurhakaan msyarakat. Namun, di ujung disebutkan, pemimpin yang tidak menerapkan syariat akan menyebabkan terjadinya perpecahan dan permusuhan di tengah-tengah masyarakat. Disamping mereka sebagai akibat mereka juga menjadi sebab. Karena, tidaklah perbuatan-perbuatan keji akan tersebar dan dilakukan terang-terangan di tengah-tengah manusia, jika pemimpinnya tegas dalam menerapkan hukum Islam. Tidak ada pezina dan pelacur yang beriklan jika pemimpin menerapkan hukum Islam berupa cambuk dan rajam. Jangankan zinanya, segala sarana yang mengarah ke sana saja dilarangnya. Tidak seperti di negeri ini, pelacuran dilindungi, dilegalkan dan dilokalisir di tempat yang dilindungi undang-undang. Siapa yang menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar di sana, dianggap melakukan kriminal karena melanggar undang-undang. Bahkan penamaannya diganti dengan Pekerja Seks Komersial PSK yang seolah menjadi jalan resmi untuk mencari nasi, sekelas dengan kuli bangunan, Pedagang, sampai PNS. Menahan dan tidak mengeluarkan zakat tidak akan terjadi dengan luas jika pemerintah menerapkan hukum Islam. Karena kepentingan utamanya, menegakkan hukum Allah, membimbing masyarakat untuk bertakwa, dan mengatur kemaslahatan dunia mereka. Namun, jika bukan pemerintahan Islam yang mengaturnya dan bukan hukum Islam yang ditegakkannya, mengelola zakat tidak menjadi bagian kepentingannya. Jika ada yang menahan dan tidak mengeluarkannya bukan sebagai pelanggaran, namun sebaliknya jika tidak mebayar pajak maka dianggap melangar. Padahal pajak tidak dikenal dan tidak wajib bagi kaum muslimin, kecuali jika mereka hidup dibawah penguasa selain mereka. Kekhawatiran dari Pemimpin Penyesat Keberadaan para pemimpin penyesat sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ “Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah berkuasanya para pemimpin yang menyesatkan.” HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316 Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr pembatasan/penghususan menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan. Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pernah pertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ “Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin menyesatkan”.” HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya. AL-AIMMAH AL-MUDHILLIN para pemimpin penyesat umat masuk di dalamnya para umara pemimpin pemerintahan, ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, dictator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat. Para ulama yang menjadi pemimpin penyesat karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya. Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotifasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka itulah yang menyebabkan Islam akan roboh. Dari Ziyad bin Hudair berkata. Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang akan menghancurkan Islam?” Aku Ziyad menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Yang akan menghancurkannya adalah menyimpangnya ulama, gugatan orang munafik terhadap Al-Kitab, dan hukum para pemimpin yang menyesatkan.” HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah 1/89, “sanadnya shahih.” Penutup Jika pemimpin dan penguasa seperti itu sifatnya, maka semua urusan akan jungkir balik. Akibatnya, pembohong dipercaya, orang jujur didustakan, penghianat diberi amanat, orang terpercaya dihianati dan didustakan, orang bodoh berbicara, orang alim dipenjara dan dilarang bicara. Kondisi ini persis seperti yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu diangkat dan tersebarnya kebodohan.” Muttafaq Alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu Semoga Allah memberikan kepada kita para pemimpin yang takut kepada Allah dan memiliki sifat amanah, mengasihi rakyat dan tidak suka hidup mewah, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, cinta syariat dan anti khianat. Amiin, yaa Rabbal alamin. [PurWD/ Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita! +Pasang iklan Gamis Syari Murah Terbaru Original FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai. Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas? Di sini Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan > jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub 0857-1024-0471 Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller NABAWI HERBA Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon 60%. Pembelian bisa campur produk > jenis produk. › Opini›Banjir dan Empati Pemimpin Menyebut hujan lebat sebagai pemicu banjir seolah melupakan ulah manusia yang menjadi penyebab bencana alam ini. Narasi seperti itu hendaknya dibuang jauh agar empati terbangun secara benar. Kompas SupriyantoMembaca berita utama Kompas 8/11/2021 ”Banjir dan Longsor Datang Lebih Awal di Tanah Air” membuat pembaca menengok peristiwa banjir di Batu, Jawa Timur. Lebih dalam lagi, sekaligus menelaah di balik peristiwa itu. Di berita itu, banjir di Batu menjadi salah satu bencana yang disorot Batu hidup dari sektor pariwisata. Obyek wisata banyak dibangun di sana. Hotel, vila, dan tempat penginapan lain bertumbuhan. Batu boleh dibilang seperti kawasan Puncak di Jawa Barat. Tingkat kekhawatirannya juga sama dengan Puncak. Maksudnya, di balik pertumbuhan wisata, ada kekhawatiran degradasi lahan. Erosi tinggi, tanah longsor menjadi ancaman, dan banjir bandang bisa terjadi kapan saja sepanjang ada hujan.Baca juga Bencana Alam dan Kerentanan Sistemik KitaBenar, Kamis 4/11/2021 itu hujan lebat mengguyur kawasan Batu, terutama bagian atas hulu, seperti halnya Sumber Brantas. Dampaknya adalah banjir bandang yang ramai diberitakan itu dan memorakporandakan beberapa tempat di Desa Sumber Brantas, Desa Bulu Kerto, Desa Tulung Rejo, Desa Padang Rejo, Desa Sido Mulyo, dan Desa ada apa di balik peristiwa banjir Batu? Ada pernyataan pemimpin di sana yang layak untuk ditelaah. Bermula dari Wakil Presiden Ma’ruf Amin menelepon Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. Kemudian Wali Kota menginfokan pemicu banjir bandang di Batu adalah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu Daerah Aliran Sungai DAS Brantas yang berada di lereng Gunung Arjuno tersebut.”Ini karena hujannya lebat sekali hampir sejam lebih dengan curah hujan yang sangat besar, membawa pohon-pohon kering yang ada di hutan ke bawah sehingga menutupi jalan air. Itu jadi menimpa rumah-rumah penduduk,” ujar Dewanti dalam laporannya. Musibah tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu Sungai Brantas, Kamis 4/11/2021 pukul 5/11/2021.KOMPAS/AMBROSIUS HARTO Penanganan material banjir bandang yang memutus akses dari dan ke Desa Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat 5/11/2021. Banjir bandang pada Kamis siang menghantam beberapa desa di wilayah hulu Sungai Wali Kota tersebut seolah mewakili pihak-pihak yang mendahulukan hujan lebat sebagai pemicu banjir. Setelah ditelusuri berita banjir di berbagai portal berita, banyak pemimpin yang menyatakan ”hujan lebat pemicu banjir”. Kalimat para pihak itu bisa kita pahami secara denotasi dan denotasi sesungguhnya sudah jelas, tanpa hujan mana mungkin ada banjir. Sejauh ini siapa pun sepakat bahwa banjir merupakan air permukaan yang tidak bisa terserap oleh tanah yang bergerak dari kawasan tinggi menuju ke tempat lebih menjadi lebih menarik adalah makna konotasinya. Di kalimat itu pemimpin tersebut lebih melihat faktor alam dijadikan pemicu dan faktor manusia terkesan disembunyikan. Padahal, kalau mau jujur, tangan-tangan manusialah yang menjadi penyebab banjir itu. Sederhana saja logikanya, bukankah hujan lebat dulu pun sudah terjadi, kenapa belakangan ini baru terjadi banjir besar?Padahal, kalau mau jujur, tangan-tangan manusialah yang menjadi penyebab banjir logika itu bisa ditegaskan hujan lebat bukanlah pemicu banjir. Bahkan, bukan pula penyebab banjir. Mau ditegaskan di sini, degradasi hutan ataupun degradasi lahan menjadi penyebab banjir tersebut. Sebab, hujan selebat apa pun kalau permukaan tanah tertutup vegetasi, membuat air hujan meresap ke dalam tanah. Sedikit air hujan yang meliuk-liuk di atas permukaan berbeda. Tanaman penutup tanah berkurang, bangunan beton menghalangi pori-pori tanah, mengakibatkan air hujan berubah menjadi air permukaan, dan akhirnya meluncur deras dari daerah tinggi ke kawasan yang lebih ”hujan lebat penyebab banjir” masih menjadikan hujan sebagai alasan. Padahal, bahwa ”lahan gundul penyebab banjir” atau ”kekeliruan peruntukan lahan penyebab banjir” lebih tepat pemakaiannya. Janganlah ”hujan lebat” dijadikan kambing juga Tak Ada Bencana AlamDi negeri kita ini kebiasaan mencari kambing hitam memang tak pernah hilang. Dari istilahnya, kambing hitam bermakna orang atau suatu faktor eksternal yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi dituduh bersalah atau dijadikan tumpuan kita lihat ke belakang, sejatinya kambing hitam itu merupakan cara untuk ”cuci tangan” atau ”melarikan diri” dari kekeliruan yang pernah diperbuat. Biasanya bilamana ada keberhasilan, orang tak segan lagi menganggap sebagai ”usaha kami yang tak kenal lelah”, tetapi kesalahan, kekeliruan, dan kegagalan dilemparkan ke kambing konteks banjir, di mana pun, biasanya hujan jadi kambing hitam. Sang hujan pun pasrah dijadikan kambing hitam. Ia tetap datang saat musimnya. Sementara tangan-tangan perusak alam tetap saja melakukan ekonomi membuat para perusak merasa tak bersalah atas perbuatannya. Selama masih ada hujan, para perusak masih punya banyak alasan. Ada kambing hitam. Saat banjir tiba, saat tepat untuk bilang, ”Hujan lebat menyebabkan banjir.” Ah, kasihan sang MULYANA SINAGA Warga menggunakan delman melintasi Jalan Andir-Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang tergenang banjir, Kamis 11/11/2021.Ke mana empati?Sepanjang kita dengar atau baca masih ada pemimpin yang sekadar menjadikan hujan lebat sebagai kambing hitam, empati mereka meragukan. Sebab, sudah jelas persoalan banjir terkait pula dengan kerusakan alam. Dalam hal empati, selain kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat dari sudut pandang orang tersebut, empati itu juga mesti membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang bisa merasakan kesusahan korban banjir, pemimpin harus membayangkan dirinya sebagai korban. Jika ia mengabaikan pemicu degradasi lahan dalam peristiwa banjir, ia akan keliru membayangkan dirinya. Ia akan membayangkan dirinya sebagai korban hujan lebat, bukan membayangkan dirinya sebagai korban dari kerusakan dari kerangka design thinking, di mana empati ini menjadi dasar menentukan persona, pemimpin itu memilih persona yang salah. Semestinya ia menetapkan persona para perusak lahan, tetapi karena menganggap banjir sekadar dipicu oleh hujan lebat, lantas para perusak lahan tak juga Alih Fungsi Lahan di Kaki Arjuno Picu Petaka di Kota BatuPerusak lahan pun dengan tenang dan amannya terus mempraktikkan usahanya minus kaidah konservasi lahan. Beda bilamana pemimpin membayangkan dirinya sebagai korban dari kerusakan alam, dalam pemikirannya akan berupaya untuk membuat jera perusak dari itu, alangkah baiknya untuk mengantisipasi banjir, tempatkan pemicu sesungguhnya. Bukan kambing hitam. Hal ini dalam rangka menemukan solusi yang tepat bagi masyarakat terdampak banjir. Buang jauh-jauh narasi tadi, narasi ”banjir dipicu hujan lebat”, ganti dengan ”kerusakan alam picu banjir”. Bedakan rasanya. Sirkuit otak akan bekerja dengan perbedaan. Kita pun terdorong untuk sama-sama mencegah kerusakan alam dan sama-sama pula TIS Suparto, Penulis Filsafat Moral Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ada dua tipe kepemimpinan yang penting untuk direnungkan oleh kita yang hidup dalam selingkung tahu bahwa bencana, khususnya di Indonesia, dipengaruhi berbagai aspek yang kompleks. Mulai dari hidrometeorologi, geologi, biologi, lingkungan, hingga teknologi. Faktor yang membauri setiap aspek tersebut juga tidak sedikit dan saling terkait. Selain itu ada satu aspek yang tidak bisa dikeluarkan dari daftar "penanggung jawab" bencana, yaitu manusia. Bencana tak bisa dilepaskan dari faktor manusia dan budayanya. Bencana bisa bermula dari kegagalan pembangunan yang dilakukan oleh manusia. Pembangunan tidak hanya wujud bangunan fisik, tapi juga pembangunan budaya, kapasitas, intelektualitas, dan kesadaran insani dalam mengelola risiko bencana. Dalam konteks ini faktor manusia atau kepemimpinan manusia memainkan peran yang sangat vital. Apalagi, kita sudah tiba pada masa kejadian bencana yang cenderung meningkat, baik frekuensinya maupun dari itu ada dua tipe kepemimpinan. Tipe pertama adalah kepemimpinan bencana, yaitu kepemimpinan yang memungkinkan penguatan kapasitas budaya ketahanan bencana. Kepemimpinan bencana mendorong segenap potensi yang ada untuk bisa mencegah, mengurangi, dan menanggapi risiko/situasi bencana. Dalam kepemimpinan bencana, pencegahan dan penanganan bencana dijadikan salah satu prioritas yang membutuhkan tidak hanya kesadaran dan niat yang sungguh-sungguh, tapi juga kerja keras secara kepemimpinan bencana, pemimpin menjadikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana sebagai salah satu kebutuhan penting. Apalagi di daerah atau wilayah yang memiliki kerawanan tinggi sehingga bencana bisa memberikan dampak yang lebih hebat. Seorang pemimpin mungkin tidak ahli bencana dan bukan pakar menata kota. Akan tetapi karena sadar akan kepemimpinan bencana dan menjadikan pencegahan bencana sebagai kebutuhan, maka tenaga, pikiran, modal dan potensi yang ada di sekelilingnya akan didayagunakan secara konsisten dan maksimal untuk memenuhi kebutuhan yang memiliki kualitas kepemimpinan bencana bisa diteladani dari sikap, perkataan, atau kebijakan-kebijakannya. Keteladanannya itu diarahkan untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan agar lebih sadar bencana. Kepemimpinan bencana yang baik paham bahwa kondisi semesta akibat pemanasan global telah memicu cuaca ekstrem dan hujan deras. Namun, ia tidak pasrah. Ia juga tidak akan melenakan masyarakat dengan menyuruh masyarakat agar menerima bencana begitu saja seperti memerintahkan umat menerima takdir Tuhan. 1 2 3 Lihat Sosbud Selengkapnya

pemimpin zalim penyebab bencana