bagaimana tanggapan allah kepada daud
Daudmelakukan dosa perzinaan dan pembunuhan dan apa yang dia lakukan ini sangat "tidak menyenangkan Tuhan" (2 Samuel 11:27). Kita mengenal Daud sebagai orang yang mencintai Tuhan. Tetapi ada bidang dalam hidupnya yang tidak pernah dia serahkan kepada otoritas Tuhan. Dia membiarkan dosa itu berkuasa dalam hidupnya, dan dosa itu akhirnya
Kemudian beliau mendengar suara dua ekor burung yang saling berbicara. Sejak saat itulah Nabi Daud memiliki kemampuan tersebut yang juga diturunkan oleh Allah kepada anaknya, Nabi Sulaiman as. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS. Artinya: " dan Kami berikan Zabur kepada Nabi Daud". (QS. an-Nisa': 163/QS. al-Isra': 55).
NabiDawud menjawab: "Benar, wahai Tuhanku.". Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku telah meridhai syukurmu itu." (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 91-92) Memiliki kesempatan bersyukur adalah nikmat, dan mensyukuri nikmat adalah nikmat. Begitulah gambaran sederhana dari riwayat di atas, bahwa
Walhasil syukur dengan lidah adalah " al- hamdulillah " (segala puji bagi Allah). Syukur dengan perbuatan. Nabi Daud AS beserta putranya Nabi Sulaiman AS memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan, اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ. Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda
Dauddan Tabut Perjanjian. Baca: 2 Samuel 6: 1-15. ( Download Ringkasan) Bagian ini berbicara mengenai tabut perjanjian Tuhan, dan melalui kehidupan Daud kita perlu melihat bagaimana datang menghampiri Tuhan. Tabut Perjanjian adalah simbol kehadiran atau penyertaan Allah, yang seringkali kita sebagai orang Kristen memintanya dalam doa, tapi
Site De Rencontre Femme Marocaine Gratuit. Dalam kitab al-Zuhd, terdapat dua riwayat yang bercerita tentang Nabi Dawud dan pertanyaannya kepada Allah tentang bagaimana caranya bersyukur. Berikut riwayatnya حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا عبد الرحمن حدثنا جابر بن زيد عن المغيرة بن عيينة قال قال داود عليه السلام يا رب هل بات أحد من خلقك الليلة أطول ذكرًا لك مني فأوحي الله عز وجل إليه نعم الضفدع وأنزل الله عليه اعلموا آلَ دَاوُدَ شكرًا وقليل مِنْ عِبَادِيَ الشّكور سورة سبأ 13 قال يا رب كيف أطيق شكرك وأنت الذي تنعم عليّ ثم ترزقني علي النعمة ثم تزيدني نعمة نعمة فالنعم منك يا رب والشكر منك فكيف أطيق شكرك يا ربّ, قال الآن عرفتني يا داود حق معرفتي Abdullah bercerita, ayahku bercerita kepadaku, Abdurrahman bercerita, Jabir bin Zaid bercerita dari al-Mughirah bin Uyainah, ia berkata Nabi Dawud alaihissalam berujar “Wahai Tuhan, apakah ada salah satu makhluk-Mu yang banyak berdzikir kepada-Mu di malam hari melebihi aku?” Kemudian Allah memberitahu Dawud “Ya, ada, yaitu katak.” Dan Allah menurunkan firman-Nya kepada Dawud QS. Saba’ 13 “Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” Nabi Dawud berkata “Duh Tuhan, bagaimana mungkin aku mampu bersyukur kepada-Mu sementara Kau yang memberiku nikmat, kemudian Kau yang memberi rezeki kepadaku atas nikmat itu, kemudian Kau yang menambahiku nikmat demi nikmat. Karena segala nikmat berasal dari-Mu, wahai Tuhan, dan syukur berasal dari-Mu. Maka, bagaimana mungkin aku mampu bersyukur kepada-Mu, wahai Tuhan.” Allah berfirman “Sekarang kau telah mengenal-Ku, wahai Dawud, benar-benar mengenal-Ku.” Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 88-89 عن أبي الجلد، عن مسلمة أَنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وَسَلَّمَ قَالَ إِلَهِيْ، كَيْفَ لِيْ أَنْ أَشْكُرَكَ، وَأَنَا لَا أَصِلُ إِلَى شُكْرِكَ إِلَّا بِنِعْمَتِكَ؟ فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ يَا دَاوُدُ، أَلَسْتَ تَعْلَمُ أَنَّ الَّذِيْ بِكَ مِنَ النِّعَمِ مِنِّيْ؟ قَالَ بَلَى، أَيْ رَبِّ، قَالَ فَإِنِّيْ أَرْضَى بِذَلِكَ مِنْكَ شُكْرًا Dari Abu al-Jald, dari Maslamah, sesungguhnya Nabi Dawud shallallahu alaihi wasallam berkata “Tuhanku, bagaimana mungkin aku bisa bersyukur kepada-Mu, sementara aku tidak akan sampai bersyukur kepada-Mu kecuali dengan nikmat-Mu juga?” Kemudian Allah memberitahu Dawud “Wahai Dawud, bukankah kau tahu bahwa yang ada pada dirimu merupakan bagian dari nikmat-nikmat-Ku?” Nabi Dawud menjawab “Benar, wahai Tuhanku.” Allah berfirman “Sesungguhnya Aku telah meridhai syukurmu itu.” Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 91-92 **** Memiliki kesempatan bersyukur adalah nikmat, dan mensyukuri nikmat adalah nikmat. Begitulah gambaran sederhana dari riwayat di atas, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak berasal dari-Nya. Namun, manusia kadang lalai dengan kemakhlukannya. Ia lupa bahwa dirinya makhluk yang diadakan oleh Allah, bukan ada dengan sendirinya. Ketika manusia melupakan kemakhlukannya, ia akan mudah dilalaikan oleh sesuatu. Untuk lebih jelasnya, simak uraian singkatnya berikut ini. Riwayat di atas dimulai dengan Nabi Dawud yang selalu terjaga sepanjang malam untuk berdzikir kepada Allah. Meski demikian, ia diingatkan bahwa ada makhluk lain yang dzikirnya lebih banyak darinya, yaitu katak. Kemudian Allah memerintahkan Dawud dan keluarganya untuk memperbanyak syukur kepada-Nya. Artinya, sebanyak apapun ibadah seseorang, harus dibarengi dengan syukur. Tanpa itu, ibadahnya dikhawatirkan hanya akan menghasilkan bibit takabur dan ujub. Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah pengingat akan kemakhlukan kita, bahwa kita harus berterima kasih dengan apapun yang Allah berikan kepada kita. Dengan melupakan terima kasih syukur, kita akan terjebak dalam lingkaran ujub dan takabur. Itulah kenapa Allah menyuruh Dawud dan keluarganya untuk bersyukur. Di sisi lain, katak dalam riwayat di atas perlu kita pahami sebagai simbol pengingat, bahwa kita tidak lebih mulia dari siapapun, bahkan dengan makhluk Tuhan non-manusia. Simbol yang mengajarkan kita agar tidak mudah membandingkan amal ibadah kita dengan makhluk Tuhan lainnya. Karena perbandingan amal seringkali berujung pada anggapan mulia diri takabbur/ujub yang akan menjebak kita. Inilah yang perlu kita hindari. Salah satu caranya dengan memperbanyak syukur kita kepada Allah. Pintu pembukanya adalah pemahaman bahwa sebanyak apapun syukur kita, tidak mungkin mendekati, apalagi menyamai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Seperti yang diungkapkan Nabi Dawud alaihissalam di atas, bahwa bersyukur sendiri adalah nikmat dari Tuhan, maka bagaimana mungkin ia mampu bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya itu’. Hal ini menunjukkan adanya ketidak-seimbangan antara anugerah yang diterima dan syukur yang dirasakan dan dipanjatkan oleh seseorang. Kebanyakan dari kita lalai akan kehadiran nikmat Allah. Kita lalai bahwa waktu adalah nikmat; sehat adalah nikmat; merasa adalah nikmat, dan semuanya adalah nikmat. Kelalaian ini sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad jauh-jauh hari, terutama soal nikmat sehat dan waktu luang. Beliau bersabda HR. Imam al-Bukhari نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai; nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” Kembali ke soal ketidak-seimbangan anugerah dan syukur. Untuk memahaminya, kita harus memperhatikan munajat indah Nabi Dawud berikut ini إِلَهِيْ، لَوْ أَنَّ لِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنِّيْ لِسَانَيْنِ، يُسَبِّحَانِ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَالدَّهْرَ كُلَّهُ، مَا قَضَيْتُ حَقَّ نِعْمَةٍ “Ilahi, sungguh, andai saja setiap rambutku memiliki dua lidah yang selalu bertasbih siang dan malam, dan bertasbih setiap waktu, aku belum menunaikan satu pun hak nikmat yang Kau berikan kepadaku.” Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, h. 88 Artinya, bertasbih sepanjang hidup, dengan dibantu setiap helai rambut yang memiliki dua lidah, dan keduanya bertasbih siang-malam dan setiap saat, itu masih jauh dari cukup untuk memenuhi hak satu nikmat yang Allah berikan. Bayangkan saja, rambut manusia yang jumlahnya sukar dihitung, dikalikan dua lidah, dan bertasbih sepanjang waktu sampai mati, masih tidak cukup untuk memenuhi hak satu nikmat dari Allah. Karena itu, kerendahan hati tawaddu’ sangat dibutuhkan dalam bersyukur kepada Allah. Kebingungan Nabi Dawud dalam bersyukur menunjukkan kerendahan hatinya, bahwa tidak mungkin mensyukuri nikmat Tuhan dengan hitungan matematis, atau dengan menghitung amal ibadah yang dilakukannya. Sebab, bisa beribadah sendiri adalah nikmat, sehingga mustahil menghitung anugerah Allah dengan angka. Jika seseorang melakukan perhitungan itu, dan merasa dirinya sebagai orang yang banyak ibadahnya, bisa jadi ia akan kehilangan makna syukur. Maka dari itu, dalam riwayat di atas, Allah menjawab kebingungan dan ketidak-mampuan Nabi Dawud dengan mengatakan, “Sesungguhnya Aku telah meridhai syukurmu itu,” dan di riwayat lain, “Sekarang kau telah mengenal-Ku, wahai Dawud, benar-benar mengenal-Ku.” Pertanyaannya, pernahkah kita bersyukur dengan kerendahan hati? Wallahu a’lam bish shawwab.. Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
YESUS KRISTUS Anak DAUD YANG SEJATI Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Seremonial Khusus Adven – Senin, 24 Desember 201 8 Ketika raja sudah berkampung di rumahnya dan Allah YHWH telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di selingkung, berkatalah raja kepada nabi Natan “Lihatlah, aku ini tutup mulut privat apartemen berusul papan aras, sementara itu tabut Tuhan bungkam di bawah tenda.” Suntuk berkatalah Natan kepada tuanku “Baik, lakukanlah segala apa sesuatu yang dikandung hatimu, sebab YHWH menyertai dia.” Sahaja pada lilin lebah itu juga datanglah firman YHWH kepada Natan, demikian “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud Beginilah firman YHWH Masakan anda yang mendirikan flat bagi-Ku buat Kudiami? Makanya sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud Beginilah firman YHWH semesta pataka Akulah yang mengambil engkau terbit padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai kamu di apa tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu berpokok depanmu. Aku membuat besar namamu seperti tanda khalayak-turunan lautan yang ada di bumi. Aku menentukan wadah bikin umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga engkau dapat sengap di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti mana silam, sejak Aku menyanggang hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Pun diberitahukan YHWH kepadamu YHWH akan memasrahkan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau sudah mendapat perhentian bersama-setolok dengan nenek moyangmu, maka Aku akan menggelorakan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Batih dan kerajaanmu akan kokoh kerjakan selama-lamanya . ” 2Sam 71-5,8-12,16 Mazmur Tanggapan Mzm 892-5,27,29; Bacaan Bibel Luk 167-79 Allah menjanjikan sesuatu yang sani kepada Daud, merupakan bahwa Dia akan membangun cak bagi Daud sebuah “keturunan” 2Sam 711. Sejarah mengobrolkan kepada kita bahwa Salomo, salah koteng putera Daud, membangun Stanza Kudus yang plong awalnya mau dibangun oleh Daud. Akan hanya kita boleh menyibuk bahwa “keturunan” nan dibangun Allah kerjakan Daud – dinastinya, warisannya, tempatnya dalam ki kenangan penyelamatan – adalah jauh lebih lautan. Di sini Halikuljabbar berbicara akan halnya garis anak cucu Daud, yang akan mencapai klimaks dalam diri Yesus Kristus, Anak Daud yang tahir. Sebagai umat Kristiani, kita saat ini beriktikad bahwa menerobos Yesus, garis keturunan Daud secara spiritual berlanjut di dalam Gereja – Tubuh Kristus – yang mengumpulkan orang-basyar yang ditebus. Yuk kita merenung sejenak Secara kolektif dan individual, masing-masing kita adalah stanza Nasib Kudus 1Kor 316; 619, sebuah wadah asli di mana Almalik beralamat di atas bumi ini. Menjadi “kondominium” Halikuljabbar tidak terjadi secara ajaib begitu saja dengan diri kita pada waktu kita dibaptis. Kita tidak menjadi bait-kuplet nan sempurna privat sekejab, memancarkan kilap Kristus secara acuan ke dunia di selingkung kita. Berpunca periode ke musim Almalik ingin meneruskan pesanan pembangunan-Nya dalam diri kita. Dia mau membuang fondasi-fondasi apa saja yang salah internal hidup kita, sehingga dengan demikian kita dapat bertumpu pada kebenaran-Nya dan belas kasih-Nya saja. Tuhan cak hendak menghadirkan diri-Nya pada kedalaman hati kita tiap-tiap, sehingga apabila kita berkumpul dalam cap-Nya – apakah untuk melakukan penyembahan kepada-Nya alias pergi ke tengah-perdua mayapada – maka Dia bisa mengalir dengan lebih penuh langgeng-kuasa di paruh kita dan melalui kita masing-masing. Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan janji Tuhan memenuhi diri kita. Bayangkanlah apa kiranya nan cak semau internal pikiran Daud ketika dia mendengar janji Allah kepadanya, bagaimana hatinya begitu tergetar membayangkan betapa agung taki tersebut. Dahulu, bayangkanlah Tuhan mengatakan hal yang proporsional kepada diri kita, bahwa Beliau sangat mengasihi kita dan kepingin berdiam dalam diri kita selamanya. Puas Malam Natal ini, marilah kita bersembah sungkem di hadapan Yesus, batu penjuru Kis 411; 1Ptr 27; bdk. Mzm 11822; tatap kembali Mat 2142; Mrk 1210; Luk 2017 dan pembangun “rumah” kita. Wirid Tuhan Yesus Kristus, aku bersembah sujud di hadapan-Mu. Aku menyambut Engkau ke dalam hatiku, dan merasa takjub bahwa Engkau akan memperhitungkan diriku sebagai salah sendiri yang dapat menjadi tempat kediaman-Mu. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berdiamlah kerumahtanggaan diriku. Amin. Catatan Untuk mendalami Bacaan Bibel perian ini Luk 167-79, bacalah coretan yang berjudul “BENEDICTUS KIDUNG ZAKHARIA” Bacaan terlepas 24-12-18] intern situs/blog PAX ET BONUM kategori 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2022. Garitan ini bersumberkan sebuah tulisan saya sreg musim 2012 Cilandak, 21 Desember 2022 Sdr. Indrapradja, OFS
bagaimana tanggapan allah kepada daud